Latest News

Showing posts with label Arti Hidup - Meaningful Life. Show all posts
Showing posts with label Arti Hidup - Meaningful Life. Show all posts

Friday, 14 December 2012

USAHAKAN YANG TERBAIK


Di sebuah danau terdapat banyak batu-batuan. Di pinggirnya terdapat sebuah papan bertuliskan pengumuman:

"Yang mengambil batu akan menyesal.
Yang tidak mengambil batu juga akan menyesal."

Heran dengan kalimat itu beberapa turis tertarik untuk mengambil beberapa butir batu itu utk melihat apa yg akan terjadi selanjutnya.  

Beberapa orang yang lainnya tidak terlalu menggubrisnya. Jadi mereka tidak mengambil batu-batu itu dan lebih tertarik untuk menikmati segarnya air di danau itu.

Setelah kembali ke negara masing-masing, mereka meminta tolong ahli batu-batuan untuk memeriksa batu yang mereka bawa.

Ternyata batu-batuan itu adalah sejenis Safir yang dari luar tampaknya jelek tapi di dalamnya mengandung permata yang sangat indah dan mahal harganya.

Turis yang tidak membawa batu itu jadi menyesal nya, tetapi yang membawanya pun akhirnya menyesal karena  mereka tidak membawa lebih banyak. 

Kita diberikan kehidupan yang sangat berharga. Namun bukankah kita seringkali kurang menghargai masa hidup ini justru di saat kita masih bisa hidup lama?

Hidup ini begitu bernilai. Jauh lebih bernilai daripada batu-batu permata.
Itulah sebabnya agar kita tdk menyesal di kemudian hari,  maka kita harus menjalani hidup dengan maksimal,  menggunakan setiap kesempatan untuk mendapatkan nilai berharga. Bekerja dengan maksimal,  mengasihi keluarga dengan maksimal,  berkarya bagi sesama dengan maksimal, belajar dengan maksimal,  jangan setengah-setengah. 

Intinya: 

KETIKA KITA SUDAH MENGUSAHAKAN YANG TERBAIK SELAMA HIDUP INI, MAKA KITA TIDAK PERLU LAGI MENYESAL DI KEMUDIAN HARI. 



Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Monday, 8 October 2012

Setiap Langkah Adalah Anugerah

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia bertemu seorang prajurit yang tak akan pernah dilupakannya, bernama Harry yang dikirim untuk menjemput profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor.

Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dan menunjukkan arah jalan yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor dengan senyumnya menghiasi wajahnya.

�Darimana anda belajar hal-hal seperti itu?� tanya sang profesor.

�Oh,� kata Harry, �selama perang, saya kira.�

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga saat tugasnya membersihkan ladang ranjau,Dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

�Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah,� katanya. �Saya tak pernah tahu apakah langkah selanjutnya merupakan pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.�

Kelimpahan hidup tidak dapat ditentukan dengan berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas dan meninggalkan jejak kaki yg berarti bagi orang lain.

Sumber: BBM dari seorang teman.


Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Thursday, 4 October 2012

The Fastest Way to Happiness and Joy



Cara Paling Cepat untuk Berbahagia dan Bersuka Cita: Menemukan Cara untuk Melayani


Pada tahun 2004 yang lalu saya mendapat penghargaan dari Academy of Achievement karena saya memberikan sumbangsih penting bagi dunia. Salah satu penerima penghargaan lain pada acara itu adalah Ken Behring, penulis buku "Road to Purpose: One Man's Journey Bringing Hope to Millions and Finding Purpose Along the Way." Ia mempunyai kekayaan sekitar USD 500 juta. Selama pidatonya, ia menceritakan kepada kami bahwa hidupnya melewati empat tahap.

Tahap pertama adalah berkaitan dengan "Benda-benda yang Dimiliki". Ia pikir jika ia telah memiliki benda-benda yang dimiliki, ia akan berbahagia. Maka ia membeli banyak rumah, banyak mobil, kapal pesiar dan pesawat pribadi - benda-benda semacam itu yang sering diimpikan orang dan ternyata ia tidak bahagia. 

Ia menerangkan tahap kedua dalam kehidupannya sebagai tahap membeli �Benda-Benda Lebih Berharga�. Ia pikir ia akan lebih berbahagia jika ia memiliki rumah lebih indah, mobil lebih mewah, pesawat terbang lebih besar, dan seterusnya. Maka ia membeli barang-barang itu. Namun ia masih tidak berbahagia. Kemudian ia mengira bahwa mungkin ia telah berfokus pada benda-benda yang salah, sehingga ia memasuki tahap ketiga, yang disebut sebagai �Benda-benda Berbeda yang Harus Dimiliki�. Pada tahap ini ia bergabung dengan seorang mitra dan membeli team football �Seattle Seahawks�. Ia pikir dengan yakin bahwa jika ia menjadi salah satu pemilik team football professional, ia akan berbahagia. Tetapi tidak. Apa yang harus dilakukan?

Pada saat itu seorang sahabat mengundangnya untuk bergabung bersamanya naik pesawat jet pribadi sahabatnya dan terbang ke Eropa untuk membagikan kursi-kursi roda kepada anak-anak cacat yang sejak lahir tidak punya kaki atau lengan atau yang pernah kehilangan kaki karena menginjak ranjau darat. Ken menerima undangan itu. Ia mengaku bahwa membawa harapan dan kebebasan kepada anak-anak itu membuatnya sungguh-sungguh bahagia untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ketika ia kembali ke rumah, ia mulai mendirikan Yayasan Kursi Roda, yang sampai sekarang telah membagikan lebih dari 750.000 kursi roda kepada anak-anak dan orang-orang dewasa di seluruh dunia.�

Ken menceritakan kepada kami tentang salah satu perjalanan awalnya untuk membagikan kursi-kursi roda, ketika ia mengangkat seorang anak lelaki berusia 11 tahun di Mexico dan dengan hati-hati menaruh anak itu duduk di kursi roda barunya. Ketika ia hendak meninggalkan anak itu dan akan mengambil kursi roda lain bagi anak lain, anak lelaki tadi tidak mau melepaskan kakinya dari Ken. Ketika Ken menoleh dan melihat wajahnya, anak itu berkata sambil menangis, �Tolong jangan pergi dulu. Saya ingin mengingat wajah Bapak, sehingga ketika kita bertemu lagi di sorga nanti, saya bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Bapak.� Ken berkata bahwa pada saat itu ia merasakan sukacita yang murni. Kemudian Ken juga mengatakan, �Ketika saya melihat kebahagiaan di mata orang-orang yang mendapatkan kursi roda, saya merasa bahwa inilah hal terbesar yang saya capai dalam hidup saya.� Memberikan sumbangsih kepada orang-orang lain adalah cara paling cepat yang saya tahu untuk memenuhi hidup anda dengan kasih dan sukacita yang sejati. 

Ditulis oleh: Jack Canfield. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://kesaksianabadi.blogspot.com

*****

The fastest way to happiness and joy is simple:  Find a way to serve.
Serving OthersBack in 2004 I was honored by the Academy of Achievement for having made a significant contribution to the world. One of the previous recipients who spoke at that event was Ken Behring, the author of Road to Purpose: One Man�s Journey Bringing Hope to Millions and Finding Purpose Along the Way. He was worth about $500 million dollars. During his speech, he told us that his life had gone through four stages. The first stage was about �Stuff.� He thought that if he had the right stuff he�d be happy. So he bought the houses, the cars, the boat, the airplane-all of the usual toys-and yet he was not happy.

He described the second stage of his life as the acquisition of �Better Stuff.� He thought he�d be happier if he had a better house, a better car, a bigger airplane, and so on. So he bought them. But he still wasn�t happy. Then he figured that maybe he had focused on the wrong stuff, so he embarked on the third stage of his life, which he called �Different Stuff.� This is when he joined with a partner and bought the Seattle Seahawks. He thought for sure that if he was the co-owner of a professional football team, he would be happy. But he wasn�t. What to do?

It was at this time that a friend invited Ken to join him on his private jet to fly to Europe and hand out wheelchairs to kids who had been born without limbs or who had lost their legs as a result of having stepped on a landmine. Ken accepted the invitation. He said that bringing hope and freedom to these children made him truly happy for the first time in his life. When he returned home, he started the Wheelchair Foundation, which has now given away more than 750,000 wheelchairs to children and adults all over the world.

Ken told us about one of his early trips to give away wheelchairs, when he picked up an eleven-year-old boy in Mexico and gently set him down in a wheelchair. When he went to leave and get another wheelchair for one of the other children, the boy wouldn�t let go of his leg. When Ken turned back around to face him, the boy said through his tears, �Please don�t leave yet. I want to memorize your face, so when we meet again in heaven, I can thank you one more time.� Ken said at that moment he experience pure joy. He later told us, �When I see the happiness in the eyes of the people who get a wheelchair, I feel that this is the greatest thing I have ever achieved in my life.� Contributing to others is the fastest way I know to infuse your life with authentic love and joy. Written by Jack Canfield.

Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Monday, 23 July 2012

Ahok

Kesaksian Basuki Tjahaja Purnama

Joko Widodo bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama telah memenangkan putaran pertama PILKADA DKI Jakarta 11 Juli 2012. Ini adalah kesaksian Basuki:

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa �Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau," dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.
 


Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, �Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.� Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, "Siapa yang mau Ku-utus?" Saya menjawab, �Tuhan, utuslah aku�.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible � Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God�s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.


Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.

Silahkan dibagikan, Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Tuesday, 14 February 2012

Whitney Houston and Adele

Whitney Houston dan Adele
Ada duka dan ada suka, Whitney Houston dan Adele di ajang Grammy Award ke-54 ini. Semoga kita bisa menarik pelajaran dari kisah hidup kedua orang ini. Betapa suci dan salehya kita harus hidup...

E-TAINMENT - SELEB Sumber Jawa Pos Group, http://www.jpnn.com/read/2012/02/14/117236/Bertabur-Cinta-untuk-Whitney-Houston-

Selasa, 14 Februari 2012 , 06:33:00
Bertabur Cinta untuk Whitney Houston
Adele Berjaya di Grammy Awards 2011

LOS ANGELES - Alkohol, obat-obatan terlarang, atau narkoba yang lama diakrabi Whitney Houston memang diduga kuat menjadi pemicu tewasnya sang diva berusia 48 tahun tersebut pada Minggu pagi WIB lalu (12/2). Namun, bukan sisi gelap itu yang dikenang oleh teman-teman dan fansnya di seluruh dunia, melainkan suara cantik dan sederet prestasinya di panggung musik dunia.

Setidaknya, itulah yang terlihat pada malam Grammy Awards ke-54 yang berlangsung Minggu malam waktu setempat atau Senin pagi WIB (13/2). Ungkapan cinta kepada pelantun soundtrack terlaris sepanjang masa, I Will Always Love You, itu tiada henti berkumandang.

Grammy yang digeber di Staples Center, Los Angeles, tersebut memang sangat lekat dengan nuansa duka. Tema acara juga didesain khusus untuk memberi tribute terhadap penyanyi yang album-albumnya total telah terjual 170 juta kopi di seluruh dunia tersebut.

Setelah penampilan pembuka dari Bruce Springsteen, host LL Cool J langsung mengajak para audiens mengenang Houston. "Kita tidak bisa menghindar dari situasi ini. Selalu ada kematian dalam keluarga kita," katanya, merujuk pada Houston, seperti dilansir Associated Press. Kemudian, rapper senior itu mengajak audiens berdoa. "Untuk saudara perempuan kami," ucapnya dengan suara bergetar.

"Bapa di Surga, kami berterima kasih kepada-Mu yang telah menciptakan Whitney di sekitar kami. Meski dia terlalu cepat meninggalkan kami, kami tetap merasa terberkati pernah disentuh oleh spiritnya yang indah dan menyala," tutur LL Cool J dalam doanya.

Bintang-bintang muda seperti Lady Gaga dan Miranda Lambert pun menunduk dalam-dalam, tenggelam dalam kesedihan. Juga Mitch dan Janis Winehouse, orang tua mendiang penyanyi berbakat yang meninggal tahun lalu karena overdosis narkoba, Amy Winehouse.

Tetapi, momen yang paling menyentuh terjadi kala Jennifer Hudson menyanyikan hits fenomenal Houston, I Will Always Love You. Diiringi denting piano, plus slide show tokoh-tokoh besar yang meninggal tahun lalu, atmosfer berkabung pun kian menguat di Staples Center.

Begitu emosionalnya Hudson, sampai-sampai dia harus berkali-kali menggigit bibir selama melantunkan soundtrack film The Bodyguard yang menjadi trademark Houston itu. "Whitney, kami akan selalu mencintaimu," ucapnya sesudah menyanyi, yang disambut standing ovation audiens.

Grammy sejatinya juga memberikan penghargaan khusus terhadap Etta James, penyanyi jazz yang baru meninggal 20 Januari lalu. Alicia Keys menyanyikan tribute untuknya di awal acara. Namun, tidak bisa dimungkiri, Grammy kali ini adalah Grammy untuk Houston. Hampir semua penampil menyelipkan ungkapan cinta dan selamat jalan buat mantan istri Bobby Brown tersebut.

"Aku hanya ingin mengucapkan pada Whitney yang sudah di surga sekarang, kami mencintaimu, kami semua mencintaimu, Whitney Houston," ucap Stevie Wonder setelah menjadi presenter sebuah kategori. Sementara, Rihanna meneriakkan, "Ayo buat suara untuk Whitney!"

Tidak mengherankan begitu banyak yang mencintai Houston. Selama hidupnya, penyanyi dengan range suara lima oktaf ini memang menebar banyak kasih melalui lagu-lagunya. Hampir semua tembang andalan seperti I Wanna Dance with Somebody, The Greatest Love of All, dan One Moment in Time bertema cinta, perjuangan, dan optimisme.

Pembawaan Houston juga sangat menyenangkan. Kawan-kawannya menyebut, perempuan kelahiran 9 Agustus 1963 ini selalu memasang senyum lebar nan hangat ketika bertemu. "Hanya sedikit orang yang bisa menyentuh dunia seperti yang dilakukan Whitney Houston," ungkap penyanyi country Billy Ray Cyrus.

Sementara itu, di sisi lain, Grammy kemarin juga menjadi ajang kejayaan Adele. Penyanyi soul asal Inggris tersebut memborong enam trofi, termasuk dari kategori bergengsi Album of the Year melalui album 21. Serta Best Record dan Song of The Year lewat single Rolling in the Deep.

Tiga trofi lain direbut dari kategori penampil perempuan terbaik, album vokal terbaik, serta video klip pendek terbaik untuk Someone Like You. Ini menjadi kado indah buat Adele, yang baru saja pulih setelah menjalani operasi tenggorokan. Tidak mengherankan, di panggung dia sempat meneteskan air mata haru.

"Rekaman ini terinspirasi oleh pengalaman seorang perempuan yang sebenarnya sangat normal. Semua orang pasti pernah mengalaminya," ungkap Adele, seperti dilansir Reuters.

"Hubungan yang gagal dan saya mengungkapkan pada semuanya, bagaimana perasaan saya. Itu terjadi pada tahun yang mengubah hidup saya," ungkap penyanyi 23 tahun itu. (na/c1/ttg)




Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian