Latest News

Showing posts with label Kebahagiaan - Happiness. Show all posts
Showing posts with label Kebahagiaan - Happiness. Show all posts

Thursday, 4 October 2012

The Fastest Way to Happiness and Joy



Cara Paling Cepat untuk Berbahagia dan Bersuka Cita: Menemukan Cara untuk Melayani


Pada tahun 2004 yang lalu saya mendapat penghargaan dari Academy of Achievement karena saya memberikan sumbangsih penting bagi dunia. Salah satu penerima penghargaan lain pada acara itu adalah Ken Behring, penulis buku "Road to Purpose: One Man's Journey Bringing Hope to Millions and Finding Purpose Along the Way." Ia mempunyai kekayaan sekitar USD 500 juta. Selama pidatonya, ia menceritakan kepada kami bahwa hidupnya melewati empat tahap.

Tahap pertama adalah berkaitan dengan "Benda-benda yang Dimiliki". Ia pikir jika ia telah memiliki benda-benda yang dimiliki, ia akan berbahagia. Maka ia membeli banyak rumah, banyak mobil, kapal pesiar dan pesawat pribadi - benda-benda semacam itu yang sering diimpikan orang dan ternyata ia tidak bahagia. 

Ia menerangkan tahap kedua dalam kehidupannya sebagai tahap membeli �Benda-Benda Lebih Berharga�. Ia pikir ia akan lebih berbahagia jika ia memiliki rumah lebih indah, mobil lebih mewah, pesawat terbang lebih besar, dan seterusnya. Maka ia membeli barang-barang itu. Namun ia masih tidak berbahagia. Kemudian ia mengira bahwa mungkin ia telah berfokus pada benda-benda yang salah, sehingga ia memasuki tahap ketiga, yang disebut sebagai �Benda-benda Berbeda yang Harus Dimiliki�. Pada tahap ini ia bergabung dengan seorang mitra dan membeli team football �Seattle Seahawks�. Ia pikir dengan yakin bahwa jika ia menjadi salah satu pemilik team football professional, ia akan berbahagia. Tetapi tidak. Apa yang harus dilakukan?

Pada saat itu seorang sahabat mengundangnya untuk bergabung bersamanya naik pesawat jet pribadi sahabatnya dan terbang ke Eropa untuk membagikan kursi-kursi roda kepada anak-anak cacat yang sejak lahir tidak punya kaki atau lengan atau yang pernah kehilangan kaki karena menginjak ranjau darat. Ken menerima undangan itu. Ia mengaku bahwa membawa harapan dan kebebasan kepada anak-anak itu membuatnya sungguh-sungguh bahagia untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ketika ia kembali ke rumah, ia mulai mendirikan Yayasan Kursi Roda, yang sampai sekarang telah membagikan lebih dari 750.000 kursi roda kepada anak-anak dan orang-orang dewasa di seluruh dunia.�

Ken menceritakan kepada kami tentang salah satu perjalanan awalnya untuk membagikan kursi-kursi roda, ketika ia mengangkat seorang anak lelaki berusia 11 tahun di Mexico dan dengan hati-hati menaruh anak itu duduk di kursi roda barunya. Ketika ia hendak meninggalkan anak itu dan akan mengambil kursi roda lain bagi anak lain, anak lelaki tadi tidak mau melepaskan kakinya dari Ken. Ketika Ken menoleh dan melihat wajahnya, anak itu berkata sambil menangis, �Tolong jangan pergi dulu. Saya ingin mengingat wajah Bapak, sehingga ketika kita bertemu lagi di sorga nanti, saya bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Bapak.� Ken berkata bahwa pada saat itu ia merasakan sukacita yang murni. Kemudian Ken juga mengatakan, �Ketika saya melihat kebahagiaan di mata orang-orang yang mendapatkan kursi roda, saya merasa bahwa inilah hal terbesar yang saya capai dalam hidup saya.� Memberikan sumbangsih kepada orang-orang lain adalah cara paling cepat yang saya tahu untuk memenuhi hidup anda dengan kasih dan sukacita yang sejati. 

Ditulis oleh: Jack Canfield. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://kesaksianabadi.blogspot.com

*****

The fastest way to happiness and joy is simple:  Find a way to serve.
Serving OthersBack in 2004 I was honored by the Academy of Achievement for having made a significant contribution to the world. One of the previous recipients who spoke at that event was Ken Behring, the author of Road to Purpose: One Man�s Journey Bringing Hope to Millions and Finding Purpose Along the Way. He was worth about $500 million dollars. During his speech, he told us that his life had gone through four stages. The first stage was about �Stuff.� He thought that if he had the right stuff he�d be happy. So he bought the houses, the cars, the boat, the airplane-all of the usual toys-and yet he was not happy.

He described the second stage of his life as the acquisition of �Better Stuff.� He thought he�d be happier if he had a better house, a better car, a bigger airplane, and so on. So he bought them. But he still wasn�t happy. Then he figured that maybe he had focused on the wrong stuff, so he embarked on the third stage of his life, which he called �Different Stuff.� This is when he joined with a partner and bought the Seattle Seahawks. He thought for sure that if he was the co-owner of a professional football team, he would be happy. But he wasn�t. What to do?

It was at this time that a friend invited Ken to join him on his private jet to fly to Europe and hand out wheelchairs to kids who had been born without limbs or who had lost their legs as a result of having stepped on a landmine. Ken accepted the invitation. He said that bringing hope and freedom to these children made him truly happy for the first time in his life. When he returned home, he started the Wheelchair Foundation, which has now given away more than 750,000 wheelchairs to children and adults all over the world.

Ken told us about one of his early trips to give away wheelchairs, when he picked up an eleven-year-old boy in Mexico and gently set him down in a wheelchair. When he went to leave and get another wheelchair for one of the other children, the boy wouldn�t let go of his leg. When Ken turned back around to face him, the boy said through his tears, �Please don�t leave yet. I want to memorize your face, so when we meet again in heaven, I can thank you one more time.� Ken said at that moment he experience pure joy. He later told us, �When I see the happiness in the eyes of the people who get a wheelchair, I feel that this is the greatest thing I have ever achieved in my life.� Contributing to others is the fastest way I know to infuse your life with authentic love and joy. Written by Jack Canfield.

Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Wednesday, 11 April 2012

Nilai Seikat Kembang - The Value of a Bouquet

Nilai Seikat Kembang
Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.  Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, "Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, "Saya Ny. Steven.  Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda.  Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya.  Saya datang untuk berterima kasih  atas kesediaan dan kebaikan hati Anda.  Saya ingin memanfaatkan  sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu?  Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda.  Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya.  Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih.  Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,"  jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya?  Saya Ny . Steven.  Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan.  Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain, ...... sesungguhnya kita menolong diri sendiri.


Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian

Tuesday, 15 November 2011

Ayah

Ada orang kaya raya yang punya segala-galanya, tapi hidupnya tidak bahagia. Seorang kawan mengajaknya mengunjungi sebuah panti asuhan agar hatinya bahagia dan tenteram. Namun sampai selesai acara di panti itu, hatinya masih gundah. Ia bergumam, "Kawan, engkau bohong, katanya kalau aku datang ke panti hatiku bisa bahagia......" Ia pun pulang, melangkah ke arah mobilnya dengan lesu. Baru saja kakinya melangkah keluar pintu panti asuhan, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil menarik tangannya.

"Oom mau pulang ya ?"
"Iya," jawabnya sambil tersenyum.
"Oom, boleh gak Nanda minta sesuatu?" tanya anak kecil yang bernama Nanda.
"Boleh, apa?"
"Tapi Nanda takut gak boleh sama Oom!"

Orang kaya itu tersenyum. Ia orang kaya, apakah yang tidak bisa dibelinya, apalagi untuk anak yatim piatu yg manis ini, pastilah permintaannya akan dipenuhi.

"Memangnya Nanda mau minta apa?" tanya orang kaya itu sambil berjongkok dan memegang bahu Nanda.
"Om... Nanda cuma minta.. Nanda pengen manggil 'AYAH' ke Oom, boleh gak?"

Orang kaya itu tercengang. Tenggorokannya terasa tersumbat. Sebuah permintaan yang tidak pernah diduganya. Ternyata bukan minta boneka, bukan juga minta uang, hanya sebuah sebutan 'ayah'. Tanpa terasa hatinya bergetar.

"Boleh.. Nanda boleh panggil ayah ke Oom."
"Terima kasih..ayaah. Kapan, ayah datang lagi? Nanda boleh minta lagi ke ayah?" "Boleh, sayang, Nanda mau minta apa?"
"Nanda minta, kalo ayah datang kesini lagi, bawa fotonya ayah ya.. Nanda mau simpan di kamar Nanda. Kalo Nanda kangen sama ayah, Nanda bisa lihat foto ayah."

Orang kaya itu mengangguk. Dengan berlinang air mata orang kaya itu memeluk Nanda dan berkata, "Besok ayah kesini lagi. Ayah akan bawa foto ayah, dan akan sering ke sini menemui Nanda. Hati orang kaya itu sangat "bahagia".

Source : Hadi Kristadi-blog pentas-kesaksian